Monday, 26 December 2016

Kesultanan Melaka: Parameswara

The Malacca Sultanate had 8 sultans. Parameswara was the first sultan of the Malacca Sultanate.


1. Parameswara (r.1389-1398; 9 yrs)

Raja Iskandar Shah (b.1344-d.1414; aged 70 yrs)
English: A portrait of Parameswara (also known as Sultan Iskandar Shah, 1344–1414), a Buddhist prince from Palembang who founded Singapore ("Singapura") then Malacca around 1400.

Español: Retrato de Parameswara.

Parameswara (1344 - 1414) atau Iskandar Shah (aksara Jawi: إسكندر شه) adalah raja terakhir dari Singapura yang memerintah dari tahun 1389 sampai 1398. He was 45 years old when he became Sultan Iskandar Shah (1389-1398).

Dia melarikan diri dari Singapura setelah invasi angkatan laut Majapahit pada tahun 1398, dan ia kemudian mendirikan benteng barunya pada muara Sungai Malaka pada tahun 1402. Dalam beberapa dekad, kota baru tersebut tumbuh pesat menjadi ibukota Kesultanan Melaka.

Etimologi

Parameswara (Dewanagari: परमेश्वर; ) adalah sebuah nama yang berasal dari bahasa Sanskrit. Parama bererti "paling berkuasa", dan Iswara berarti "raja". Parameswara juga merupakan nama lain untuk Siwa atau Siva, salah satu dewa utama dalam agama Hindu.

Kerajaan Singapura

Hanya satu catatan yang secara terperinci menulis tentang Kerajaan Singapura dan Melaka, iaitu kitab Sulalatus Salatin (Malay Annals) yang ditulis pada masa kejayaan Melaka dan kembali disusun pada tahun 1612 oleh pengadilan Johor. Inilah kitab yang menulis secara terperinci mengenai pendirian Melaka, suksesi penguasa, dan masa-masa kejatuhannya.

Suma Oriental (1512-1515; 3 yrs) by Tome Pires

Suma Oriental adalah buku yang ditulis oleh Tome Pires pada tahun 1512-1515, berisi maklumat tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada zaman abad ke-16. Buku ini sebenarnya merupakan laporan rasmi yang ditulis Tome Pires kepada Raja Emanuel tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Barat waktu itu.

Buku ini terdiri daripada 6 jilid, di mana dua jilid pertama berisi maklumat tentang wilayah antara Mesir dan Malabar, dan 4 jilid berikutnya berisi maklumat tentang wilayah Bengal, Indochina, Malaya (Tanah Melayu), Indonesia, China dan Jepun. Tentang Indonesia, Suma Oriental memuat maklumat tentang pulau Jawa dan Sumatera.

Kesultanan Delhi di India

Tomé Pires menulis tentang Kesultanan Delhi (atau Moghul?) yang beragama Islam di India, antara tahun 1512-1515. Tulisannya seperti berikut:
Perdagangan dengan Koromandel, Malabar, atau Bengal, disebutkannya tidak menguntungkan; contohnya di pelabuhan Masulipatnam, hanya melibatkan perdagangan garam, cili, dan opium. Kain dari Bengal amat bermutu tinggi dan mendapat pemintaaan yang banyak. Ia juga menceritakan tentang Kerajaan Hindu di Orissa dan Tippera. Juga terdapat huraian mengenai ibukota Bengal.

Tome Pires berhubung dengan berbagai pihak, khususnya dengan para ahli pelayaran, pedagang dan administrator di negara-negara yang disinggahinya. Pelayarannya yang mewakili Portugis ini melibatkan seorang budak dari Habsyah (Ethiopia).

Kesultanan Melaka (1405-1511)

Tomé Pires turut menulis tentang Kesultanan Melaka, antara tahun 1402-1511. Ia menceritakan pula tentang aktiviti perdagangan berbagai negara dan kota di Asia Tenggara, serta pelabuhan-pelabuhannya, seperti berikut:
  • Pendiri Melaka ialah Parameswara seorang putera dari Palembang. Palembang merupakan pusat kerajaan Srivijaya, sebuah kerajaan terkenal yang memiliki kekerabatan dengan Sailendra.
  • Pada 1377, Sriwijaya ditakluki oleh Majapahit, dan waktu itu Parameswara telah menikah dengan seorang puteri dari Majapahit, Jawa Timur.
  • Parameswara enggan membayar ufti kepada Majapahit, lalu mendeklarasikan kemerdekaannya. Ia melarikan diri waktu tentera Majapahit menyerang dan memusnahkan Palembang. 
  • Di Temasik, Parameswara membunuh Tamagi, seorang wakil kerajaan Siam.
  • Pada 1398, kerajaan Ayutthaya menyerang Temasik dan Parameswara melarikan diri ke Sungai Muar dan seterusnya Sungai Bertam.
  • Pada 1400, Orang Laut yang menjadi pengikutnya setuju Sungai Bertam dijadikan perkampungan yang akhirnya menjadi Kerajaan Melaka.

Catatan Suma Oriental

Catatan penting lainnya ialah Suma Oriental yang ditulis setelah penaklukan Portugis atas Melaka. Keduanya, Suma Oriental dan Sulalatus Salatin memang mengandung cerita serupa tentang seorang pangeran Sriwijaya yang melarikan diri dan tiba di Singapura, serta tentang raja terakhir dari Singapura yang melarikan diri ke pantai barat Semenanjung Melayu dan tiba di Melaka. Namun kedua catatan tersebut sangat berbeza.

Suma Oriental mengatakan bahwa pangeran yang melarikan diri dan raja terakhir Singapura sebagai orang yang sama yang dikenal sebagai Parameswara. 

Di sisi lain, Sulalatus Salatin lebih terperinci mengidentifikasi pangeran yang melarikan diri dan raja terakhir Singapura sebagai dua orang yang berbeza, dipisahkan oleh lima generasi. 

Suma Oriental mencatat bahwa pangeran Sriwijaya yang melarikan diri itu merebut tahta Singapura dari raja muda Siam bernama Temagi iaitu sekitar tahun 1390-an. Namun hal ini dibantah oleh satu-satunya penulis Tiongkok pada abad ke-14, Dao Yi Zhi Lue yang kemudian ditulis oleh Wang Dayuan, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa pada masa itu Singapura diperintah oleh pemerintah tempatan (local ruler).

Suma Oriental (1944) translated by AZ Cortesao

Buku Suma Oriental telah diterjemahkan dan diterbitkan pada tahun 1944 dengan judul sama, oleh Hakluyat Society, tetapi ia bukanlah tulisan asli yang sebenarnya dari Tomé Pires. Pada tahun 1944, A. Z. Cortesao menerbitkan terjemahan Suma Oriental ke dalam Bahasa Inggeris, berdasarkan versi salinan Suma Oriental yang ditemui di Perpustakaan Chambre des Deputes di Paris.

Pegasas Kesultanan Melaka

Selepas Parameswara mengasaskan Kesultanan Melaka, ada dua penguasa lain dari garis keturunan yang sama yang menggunakan Parameswara sebagai gelaran mereka. Mereka ialah Sang Nila Utama, pengasas Singapura kuno (dengan gelaran "Sri Maharaja Sang Utama Parameswara Batara Sri Tri Buana") dan Abu Syahid Shah, Sultan ke-empat Melaka (dengan gelaran "Raja Sri Parameswara Dewa Shah").

Asal usul keturunan Parameswara

Berdasarkan kronologi Tiongkok, Dinasti Ming menyebutkan pengasas Melaka adalah Pai-li-mi-su-la (Parameswara), yang mengunjungi Maharaja Yongle (Yong Le) di Nanjing pada tahun 1405 dan 1409. Sementara dalam Sulalatus Salatin, tidak dijumpai nama tokoh ini, namun kemudian beberapa sejarahwan merujuk tokoh ini dengan Raja Iskandar Syah, dalam Sulalatus Salatin disebutkan sebagai pengasas Melaka. Sebelumnya, Raja Iskandar Syah merupakan Raja Singapura, namun kerana serangan Jawa dan Siam menyebabkan Raja Singapura memindahkan pusat pemerintahannya ke Melaka. Sang Nila Utama, penerus raja Sriwijaya, memiliki putra bernama Paduka Sri Pekerma Wira Diraja (1372 – 1386). Sri Pakerma kemudian memiliki putra bernama Paduka Seri Rana Wira Kerma (1386 – 1399). Parameswara adalah putra dari Seri Rana Wira Kerma.

Jatuhnya Singapura

Pada tahun 1389, Sri Maharaja Singapura digantikan oleh putranya, Iskandar Shah. Meskipun menggunakan gelaran Parsi, namun tidak ada bukti yang mengatakan bahwa ketika itu dia telah memeluk agama Islam. Namun dalam catatan Malay Annals, pengaruh Islam di Singapura telah ada sejak masa pemerintahan Sri Rana Wikrama, ketika ia pertama kali menjalin hubungan dengan kerajaan Muslim Sumatera, Perlak. Salah satu sumber mengklaim bahwa Parameswara memiliki isteri seorang wanita Muslim dan kemudian ia mengubah agamanya menjadi Muslim.

Iskandar Shah

Seperti disebutkan dalam Sejarah Melayu, kisah jatuhnya Singapura dan larinya raja terakhir, disebabkan atas tuduhan Iskandar Shah kepada salah satu selirnya yang melakukan perzinaan. Sebagai hukuman, raja menelanjangi selir itu di depan umum. Untuk membalaskan dendamnya, ayah selir itu, Sang Rajuna Tapa yang juga seorang staf di pejabat pengadilan Iskandar Shah, diam-diam mengirim pesan kepada Wikramawardhana dari Majapahit, untuk menyerang Singapura. 

Jawa dan Majapahit Serang Singapura

Pada tahun 1398, Majapahit mengirimkan armadanya yang terdiri dari 300 kapal perang utama dan ratusan kapal kecil, membawa tidak kurang dari 200,000 orang. Pada awalnya, tentara Jawa bertempur di luar benteng dengan penduduk Singapura. Sebelum akhirnya perang, memaksa mereka untuk mundur ke belakang tembok. Kekuatan serangan Jawa terus melakukan pengepungan kota dan berulang kali mencuba untuk menyerang benteng, namun benteng tak dapat ditembus.

Kelaparan Dalam Benteng

Setelah sekitar satu bulan, makanan di dalam benteng mulai kehabisan dan pihak yang bertahan berada di ambang kelaparan. Sang Rajuna Tapa kemudian diminta untuk membahagikan biji-bijian milik kerajaan kepada masyarakat yang bertahan. Sebagai bentuk balas dendam, menteri berbohong kepada raja, dan mengatakan bahwa gudang kerajaan telah kosong. Akhirnya orang-orang yang bertahan mengalami kelaparan. 

Pintu gerbang dibuka, rakyat dibunuh, dan raja cabut lari

Serangan terakhir Majapahit terjadi setelah pintu gerbang akhir dibuka atas perintah seorang menteri. Para prajurit Majapahit bergegas masuk ke benteng dan pembantaian yang mengerikan terjadi. Menurut Malay Annals, "darah mengalir seperti sungai" dan noda merah (red node or red dot) di tanah Singapura disebut-sebut berasal dari darah pembantaian itu. Mengetahui kekalahan sudah dekat, Iskandar Shah dan para pengikutnya melarikan diri dari Singapura.

Parameswara Mendirikan Melaka

Setelah jatuhnya Singapura, Iskandar Shah atau Parameswara melarikan diri ke utara untuk menemukan sebuah pemukiman baru. Di Muar, Parameswara merenung untuk mendirikan kerajaan baru. Mengetahui bahwa lokasi itu tidak cocok, ia melanjutkan perjalanan ke utara. Dalam perjalanannya dia mengunjungi Sungai Ujong sebelum akhirnya mencapai sebuah desa nelayan di muara Sungai Melaka. Daerah ini kemudian berkembang dari waktu ke waktu menjadi lokasi Kota Melaka sekarang ini. 

Pokok Melaka

Menurut Malay Annals, ketika sedang beristirahat di bawah pohon Melaka, raja melihat seekor kancil sedang mengecoh anjing. Nama "Melaka" itu sendiri berasal dari nama sebuah pohon (bahasa Melayu: Pokok Melaka) yang nama saintifiknya disebut Phyllanthus emblica

Lambang Negeri Melaka

Melihat kecerdikan kancil, dia berpikir bahwa tempat ini adalah tempat yang terbaik untuk mendirikan kerajaan. Sekarang, kancil merupakan salah satu dari lambang Melaka modern. 

Nama Negeri Melaka

Berdasarkan catatan lain, nama negeri Melaka berasal dari bahasa Arab, malakat (jemaat pedagang). Yang mana selama pemerintahan Muhammad Shah (1424 - 1444), kerajaan ini menjadi rumah bagi banyak komuniti pedagang.

No comments:

Post a Comment